Laman

Tampilkan postingan dengan label Rupiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rupiah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Bank Dunia Yakin RI Bisa Atasi Tekanan Rupiah dan Gejolak Eksternal

VIVAnews - Indonesia dipandang bisa mengatasi tekanan atas kurs mata uangnya dan mampu terus bertahan dari gejolak eksternal. Namun pemerintah Indonesia harus siap mengantisipasi lambatnya pertumbuhan ekonomi yang melanda negeri ini.

Demikian penilaian Rodrigo Chaves, Kepala Baru Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. Rodrigues merupakan seorang ekonom dengan lebih dari 20 tahun pengalaman bekerja di bidang pembangunan di lebih dari 30 negara.

“Dalam dekade terakhir, dunia telah melihat transformasi Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah yang dinamis, berkat fondasi makro-ekonomi yang kuat dan manajemen fiskal yang baik. Bank Dunia percaya bahwa Indonesia akan mengatasi tekanan pada Rupiah, dan terus bertahan menghadapi gejolak eksternal," kata Chaves dalam keterangan tertulis yang dikirim ke VIVAnews hari ini.

Yang lebih penting, lanjut Chaves, negara besar ini memiliki semua yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi semua rakyat Indonesia. Meski ekonomi Indonesia tetap tangguh, dia mengingatkan bahwa tingkat pertumbuhan di Indonesia mulai melambat.

Kondisi ini mencerminkan pelemahan dalam investasi, harga komoditas, serta konsumsi domestik. Defisit neraca Indonesia juga terus naik, dengan jumlah impor yang naik lebih cepat dari pada jumlah ekspor.

Namun Rodrigues melihat bahwa perubahan kebijakan dalam beberapa bulan terakhir, seperti pengurangan subsidi bahan bakar minyak, merupakan perkembangan positif yang akan membantu Indonesia bangkit kembali.

“Ekonomi Indonesia tengah menyesuaikan diri dengan ketidakpastian jangka pendek. Namun proyeksi pertumbuhan negara ini tidak perlu diragukan lagi, terutama bila rencana jangka panjang dan kebijakan publik dapat meningkatkan investasi, serta juga perluasan keterampilan tenaga kerja dan infrastruktur," kata Chaves, yang mendapat gelar doktoratnya di bidang ekonomi dari Ohio State University.
Sebelum ditempatkan di Indonesia, Chaves merupakan Direktur Pengentasan Kemiskinan dan Manajemen Ekonomi untuk kawasan Amerika Latin dan Karibia, yang memiliki tantangan pembangunan serupa dengan Indonesia.

Tantangan tersebut termasuk mengatasi naiknya ketidaksetaraan serta memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, dan memperluas akses pendidikan, kesehatan, air minum dan layanan dasar lainnya. Walaupun tingkat kemiskinan di Indonesia telah turun menjadi 11,8 persen pada tahun 2013, sekitar 40 persen penduduk – atau 100 juta orang – masih menderita kemiskinan.

Chaves akan memimpin program Bank Dunia di Indonesia dengan portfolio terdiri dari 37 proyek aktif dengan nilai komitmen USD $8 milyar per Agustus 2013; portfolio tersebut terdiri dari berbagai program, termasuk program pembangunan berbasis masyarakat, program perluasan energi geotermal, dan program layanan pendidikan anak usia dini. (eh)


View the original article here

Jumat, 08 November 2013

Rupiah melemah lagi jadi Rp11.417 per dolar

Nilai rupiah tercatat Rp11.404 per dolar AS pada kurs tengah Bank Indonesia, Jumat (8/11). (FOTO ANTARA/Fanny Octavianus)

Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam transaksi antarbank di Jakarta Jumat sore melemah, turun 22 poin menjadi Rp11.417 per dolar AS dari posisi terakhir Rp11.395 per dolar AS pada Kamis (7/11).

Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan nilai rupiah masih akan mengalami tekanan dalam jangka menengah.

"Walau sentimen dan kekhawatiran di domestik sudah mereda, namun data-data ekonomi yang terakhir masih menimbulkan pertanyaan pada investor terutama data pertumbuhan ekonomi domestik," katanya.

Tingkat inflasi yang cenderung membaik, menurut dia, merupakan faktor yang paling penting dalam menjaga kestabilan rupiah. Peningkatan kembali inflasi dapat membuat rupiah tertekan signifikan.

Namun, ia melanjutkan, pelaku pasar tidak perlu terlalu mencemaskan volatilitas nilai rupiah selama penjagaan masih dilakukan.

Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri menambahkan pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi oleh neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit serta melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Isu ke depan, investor akan kembali mencermati kinerja neraca perdagangan Indonesia serta pertumbuhan ekonomi Indonesia," katanya.

Renny menambahkan, sentimen eksternal terutama dari Amerika Serikat masih menjadi pendorong apresiasi dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.


View the original article here